20.12.14

Ingin Pijat? Perhatikan Dulu Kondisi Tubuh!

 

 Pijat memang bisa merilekskan otot-otot tubuh yang tegang. Namun, ada beberapa kondisi tertentu yang tidak boleh dipijat. Kondisi seperti apa?

Menurut Niniek Soetini SSt FT, manusia memang makhluk yang memiliki sifat skin hunger. ”Artinya, dengan sedikit memberikan sentuhan, seseorang akan merasa nyaman,” ujarnya.
Meski bisa membuat tubuh rileks, bukan berarti setiap orang bisa dipijat sembarangan. Menurut Niniek, seseorang tidak boleh dipijat bila sedang dalam kondisi:

- Demam

Saat demam sebaiknya tidak pijat. Apalagi bila suhu tubuh lebih dari 37 derajat C. Sebab, demam menunjukkan bahwa dalam tubuh sedang terjadi reaksi radang.

- Bengkak

Bila ada pembengkakan di tubuh sebaiknya juga tidak boleh dipijat. Sebab, pembengkakan terjadi akibat adanya kelainan pembuluh darah, adanya kerusakan jaringan, seperti rupture otot, retak tulang, atau perdarahan di bawah kulit. Sehingga, pemijatan justru akan menyebabkan kondisi bengkak akan semakin parah.

- Menderita Penyakit Kulit

Menderita penyakit kulit, apalagi ada bagian yang luka terbuka, sebaiknya tidak pijat. Sebab, pemijatan dikhawatirkan akan memperparah kondisi penyakit kulit, akibat infeksi.

- Menderita Penyakit Tertentu

Menderita penyakit tertentu sebaiknya juga tidak pijat. Sebab, menderita penyakit tertentu bisa menurunkan sensitivitas kulit, sehingga tidak dapat merasakan efek pijat.
Di luar kondisi yang telah disebutkan, kata Niniek, seseorang boleh-boleh saja dipijat. Meski begitu, ia mengingatkan agar memerhatikan hal-hal berikut demi kenyamanan dan keamanan:

- Konsultasikan

Sampaikan keluhan yang dirasakan, apakah karena kelelahan, hanya ingin rileks, atau adanya ketegangan otot di beberapa bagian tubuh. Dengan begitu, pemijat bisa menyesuaikan sesuai dengan keluhan yang terjadi.

- Satu Jam setelah Makan

Jangan langsung pijat setelah makan. Sebab, pada saat itu, makanan masih berjalan menuju lambung. Sehingga, pemijatan akan menimbulkan rasa tidak nyaman.

- Atur Suhu Ruangan

Perhatikan suhu ruangan tempat pemijatan. Sebab, saat dipijat tentu seseorang tidak mengenakan busana agar pemijatan benar-benar terasa. Suhu yang dianjurkan adalah suhu kamar. ”Jadi, tidak terlalu dingin. Kalau terlalu dingin, dikhawatirkan akan menyebabkan hipotermia atau penurunan suhu tubuh secara mendadak, yang tentunya bisa berakibat fatal,” ujar Niniek.

- Pilih Media yang Tepat

Pemijatan biasanya dilakukan menggunakan media penghantar, seperti lotion atau minyak untuk mengurangi tarikan pada kulit. Nuniek tetap mengingatkan agar pemilihan lotion atau minyak yang digunakan benar-benar tepat.

- Dosis Harus Tepat

Dosis pemijatan harus tepat. Jangan kurang atau sebaliknya terlalu keras. Dikatakan Niniek, di awal pemijatan, pemijat biasanya akan bertanya apakah tekanan yang diberikan kurang atau terlalu keras. ”Nah, gunakan itu untuk mengatur dosis pemijatan yang diinginkan, sehingga pemijatan benar-benar sesuai dengan kebutuhan,” katanya.

- Hindari Daerah Perut

Sebaiknya hindari pemijatan di daerah perut. Sebab, di dalam perut terdapat banyak organ-organ intestinal, seperti lambung, usus, rahim dan sebagainya.
Bila salah menekan, dikhawatirkan malah akan berakibat fatal, seperti pecahnya pembuluh darah salah satu organ intestinal. Atau, adanya pergeseran dari organ dalam. Niniek mengatakan, pemijatan dianjurkan dua minggu atau sebulan sekali. ”Pada saat itu, penumpukan asam laktat sudah cukup banyak, sehingga tubuh terasa lelah,” ujarnya.
(Sumber  http://nyata.co.id/tips/sehat)

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...