Kebahagiaan atas kelahiran sang buah hati terasa makin lengkap ketika proses menyusui berjalan lancar. Tapi nyatanya tidak sedikit Ibu yang mendapati ASI-nya tidak kunjung keluar pascamelahirkan. Lantas bagaimana cara mengatasinya
Sejak usia kehamilan 16 minggu atau berkisar empat bulan kehamilan, produksi ASI sudah mulai ada. Tetapi dihambat oleh kadar hormon kehamilan yang tinggi. Barulah pada hari ke-2 atau ke-3 pascamelahirkan, kadar hormon kehamilan turun drastis dan hormon yang memengaruhi produksi ASI (hormon prolaktin) semakin dominan.
Saat itulah ASI mulai dikeluarkan dari payudara.
”Secara alamiah payudara mulai membengkak pada hari ke-2 atau ke-3
pascapersalinan,” papar dr Utami Roesli SpA MBA IBCLC FABM, Ketua
lembaga Sentra Laktasi Indonesia (Selasi) ketika dihubungi Nyata
beberapa waktu lalu.
Namun yang terjadi sesaat setelah melahirkan,
banyak Ibu yang panik dan khawatir saat ASI tidak keluar. Menurut Utami,
kekhawatiran itu tidak beralasan. Sebab bayi yang baru lahir mampu
’puasa’ selama minimal tiga hari tanpa ASI. ”Tapi, akan lebih baik lagi,
jika ASI langsung keluar setelah bayi dilahirkan,” ungkapnya.
Utami mengatakan bahwa sebenarnya ASI yang
dibutuhkan bayi baru lahir sangat sedikit. Bahkan, peneliti menemukan
bahwa pada hari pertama sampai hari ketiga lambung bayi baru lahir hanya
memiliki kapasitas menampung sekitar lima-tujuh ml ASI setiap kali
minum.
Jumlah ini sesuai dengan jumlah kolostrum yang
sudah tersedia dalam payudara ibu pada hari-hari awal pascapersalinan.
Tetesan-tetesan ASI pertama kali sampai hari kelima atau ketujuh, berupa
kolostrum sudah cukup memenuhi kebutuhan bayi.
”Ukuran lambung bayi yang baru lahir sampai usia
hari ketiga diasumsikan sebesar kelereng. Penting Ibu ketahui pada hari
pertama kelahiran, dimana lambung bayi tidak dapat membesar untuk
menampung banyak cairan seperti pada hari-hari berikutnya,” ungkap
Utami.
”Bayi cenderung akan muntah apabila mendapat
minum banyak pada hari pertama pascakelahirannya. Namun akan terus
bertambah seiring dengan bertambahnya usia bayi,” papar Ketua Pembina
Sentra Laktasi Indonesia itu. Seiring bertambahnya usia bayi, jumlah ASI
yang Ibu produksi akan bertambah dan menyesuaikan dengan kebutuhan
bayi.
Hormon prolaktin akan merangsang sel sel pabrik (
alveoli) untuk mengubah darah menjadi ASI sebanyak ASI yang
dikeluarkan. Misalnya ASI dikeluarkan 50 ml maka prolaktin akan merubah
darah menjadi ASI sebanyak 50 ml. Selain itu karena posisi dan
perlekatan, bila cara memerah ASI tepat maka bayi akan dapat mengambil
ASI sebanyak yang dia perlukan dan ibu dapat memerah ASI sebanyak yang
ibu perlukan.
Yang perlu diketahui adalah setiap kali bayi
mengisap payudara akan merangsang ujung saraf sensoris di sekitar
payudara sehingga merangsang kelenjar hipofisi bagian depan untuk
menghasilkan prolaktin. Prolaktin akan masuk ke peredaran darah kemudian
ke payudara menyebabkan sel sekretori di alveolus (pabrik ASI)
menghasilkan ASI.
Prolaktin akan berada di peredaran darah selama
30 menit setelah dihisap sehingga prolaktin merangsang payudara
menghasilkan ASI untuk minum berikutnya. Sedangkan untuk minum yang
sekarang, bayi mengambil ASI yang sudah ada.
Faktor Emosional
Utami mengatakan bahwa semakin banyak ASI yang dikeluarkan dari gudang
ASI, maka akan semakin banyak produksi ASI. Dan semakin sering bayi
menyusui, semakin banyak ASI yang diproduksi. Yang perlu diketahui bahwa
prolaktin umumnya dihasilkan pada malam hari, sehingga menyusui pada
malam hari dapat membantu mempertahankan produksi ASI.
Ditegaskannya, sebetulnya tidak ada ibu yang
tidak keluar ASI-nya. Produksi ASI tergantung kebutuhan bayi. Jika bayi
kurang minum bukan berarti ibunya tidak bisa memproduksi sebanyak yang
diminta bayi. Kemungkinan besar karena bayinya yang tidak bisa mengambil
susu dengan baik, misalnya karena posisi menyusui yang salah.
Menurut Utami, bila ASI sampai tidak keluar umumnya hambatan yang terjadi berkaitan dengan faktor emosional ibu.
Perlu diketahui, untuk bisa mengalirkan ASI, ibu membutuhkan refleks yang disebut let down reflex. Refleks ini sangat dipengaruhi kondisi emosi ibu.
Walaupun produksi susunya bagus, tapi kalau
refleks itu tidak bisa dilepaskan, maka susu tidak akan dialirkan dari
pabrik susu (Alveoli) ke gudang susu (Sinus Lacteferous). ”Agar kondisi
emosi ini baik, ibu yang hendak menyusui harus tenang dan selalu
berpikir positif,” papar dokter yang berpraktik di Klinik Lakstasi Rumah
Sakit St Carolus Salemba, Jakarta itu.
ASI tidak mungkin kurang karena produksi ASI sebenarnya disesuaikan dengan permintaan bayi (demand and supply).
Kalau sampai bayi kekurangan ASI, tambah Utami, biang keladinya tidak lain cara menyusu yang salah. Jadi, jika bayi harusnya memperoleh ASI sebanyak 100 cc, tapi karena cara menyusunya salah, maka yang didapat cuma 50 cc.
Akibatnya ’pabrik’ pun cuma memasok 50 cc.
”Faktor lain yang membuat bayi kekurangan ASI adalah intervensi ibu
dengan memberinya susu formula,” tegas Utami. Aktivitas menyusui rutin
yang dilakukan sang ibu akan membuat produksi ASI cepat meningkat
sejalan dengan kebutuhan bayi yang semakin bertambah.
ASI akan tercukupi bila posisi dan perlekatan
mulut bayi pada puting benar. Selain itu, kecukupan ASI pada bayi juga
bisa dilihat saat bayi buang air kecil lebih dari 6 kali sehari dengan
warna urin yang tidak pekat dan bau tidak menyengat, berat badan bayi
naik lebih dari 500 gram dalam sebulan dan telah melebihi berat lahir
pada usia 2 minggu.
Kelola dengan Benar
Utami menegaskan bila payudara dikelola dengan benar, maka produksinya tidak akan berhenti. Cara pengelolaannya tidak terlalu sulit, yaitu dengan selalu mengeluarkan ASI walau tidak diisap bayi. Jadi, bila karena suatu hal bayi tidak dapat menyusu, misalnya lahir prematur, sakit atau ibu bekerja, ASI harus dikeluarkan dengan cara dipompa atau diperah.
Proses ini tidak akan membuat ASI habis, kecuali
bila cara memompanya salah. ”Salah pompa sama kasusnya dengan posisi
menyusui yang salah. Akibatnya ASI sama-sama tidak keluar atau hanya
keluar sedikit,” kata Utami. Jangan lupa, produksi ASI berlangsung
dengan mekanisme demand and supply atau ada permintaan maka ada pasokan.
”Kalau ASI hanya dikeluarkan 10 cc karena cara
pompa yang salah, maka supply-nya pun tidak beranjak dari jumlah itu.
Inilah yang membuat banyak ibu menyangka ASI-nya habis akibat dipompa,”
ungkapnya. Apakah ibu harus memberikan 2 sisi payudaranya setiap kali
menyusui bayinya?
Utami berpendapat, memang tidak ada salahnya
untuk menawarkan sisi payudara yang belum diisap kepada bayi. Tapi jika
bayi menolak tidak perlu dipaksa. ”Prinsipnya, biarkan bayi yang
menentukan berapa lama ia menyusu. Kekhawatiran bahwa menyusu yang cuma
sebentar tidak akan memenuhi kebutuhannya ternyata tidak beralasan,”
katanya.
Dalam menyusui, pada isapan pertama bayi akan
mendapat foremilk. Pada isapan kedua, ia akan mendapatkan susu yang
disebut hindmilk. Komposisi keduanya sangat berbeda. Foremilk lebih
banyak mengandung air dan protein, sedangkan hindmilk banyak mengandung
lemak dan karbohidrat yang berarti lebih kental.
Memang, pada isapan pertama, bayi lebih banyak
mendapat susu yang banyak mengandung air. Namun, kalau ia hanya sebentar
saja menyusu, tidak perlu kita khawatir bahwa kebutuhannya tidak
terpenuhi. ”Bisa saja, kan, bayi hanya haus dan tidak lapar? Bukankah
yang tahu lapar atau haus hanya ia sendiri? Jadi biarkan bayi yang
memutuskan berapa lama ia menyusu. Jika haus ia akan menyedot sebentar,
tapi kalau memang lapar ia akan menyusu sampai mendapatkan hindmilk,”
ulas Utami.
Seorang ibu yang sudah berhenti menyusui, secara
teoritis bisa memberikan ASI eksklusif lagi apabila payudaranya
dirangsang kembali. Caranya adalah dengan mengonsumsi obat-obatan yang
mengandung oksitosin untuk merangsang produksi ASI plus penggunaan alat
bantu.
Alat bantu ini bisa berupa lactation aid yang
terdiri atas botol plastik yang diisi ASI donor atau susu formula. Botol
plastik tersebut akan ditaruh dengan mulut terbalik. Dari ujung tutup
botol dialiri 2 buah selang kecil yang ditempelkan di kedua puting susu.
Sehingga ketika bayi mengisap payudara, ia akan mendapat asupan susu
dari botol. ”Isapan yang diterima payudara sambil si bayi menyusu dari
slang akan merangsang produksi ASI,” ungkap Utami.
Utami menyarankan, agar produksi ASI makin
lancar sebaiknya lakukan pemeriksaan pada bayi apakah ada kelainan atau
sakit. Selain itu perbanyak juga skin to skin, lakukan pijat laktasi,
dan yang tidak kalah pentingnya berkonsultasi tentang ASI dan menyusui
untuk meningkatkan percaya diri ibu.
Tips Memperlancar ASI
Beberapa cara yang bisa dilakukan agar ibu sukses memberikan ASI:
- Lakukan pertemuan dengan para ahli yang mengetahui seluk-beluk ASI (konselor laktasi) sejak sebelum Ibu melahirkan terutama pada kehamilan trimester ke-2 dan ke-3.- Pascamelahirkan bila Ibu dan bayi berada dalam kondisi baik dan sehat, segera lakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini) untuk merangsang keluarnya kolostrum.
- Posisi dan perlekatan bayi ke payudara harus tepat, agar lebih jelas lakukan konsultasi pada konselor laktasi atau dokter sehingga bayi dapat menyusu dengan baik.
- Sering berusaha menyusui bayi walaupun ASI belum keluar, karena isapan bayi akan mengirim sinyal ke otak Ibu agar memroduksi dan mengeluarkan ASI.
- Jangan lupa mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang. Terutama perbanyak minum, makan sayur (daun katuk) dan buah-buahan.
- Jangan terlalu stres atau memiliki kekhawatiran berlebihan karena akan memengaruhi produksi ASI.
- Berpikir positif dan yakinlah bahwa Ibu mampu memberikan ASI yang cukup. Karena keyakinan yang kuat akan membantu dalam pengeluaran hormon-hormon untuk memroduksi dan mengeluarkan ASI.
- Dukung para Ibu yang mempunyai motivasi memberikan ASI eksklusif. Dukungan bukan hanya dari tenaga kesehatan tetapi dari orang terdekat yang berada di sekeliling Ibu, seperti suami, orangtua, mertua, tetangga dan para sahabat.
- Rasa bahagia, selalu mendapat dukungan, dan perasaan dapat menjadi wanita seutuhnya merupakan hal-hal yang bisa memperlancar produksi ASI.
- Proses pemberian ASI adalah proses pembelajaran, baik bagi si ibu yaitu proses belajar menyusui, dan bagi bayi adalah proses belajar menyusu. Jadi jangan dipaksakan tapi nikmati saja proses laktasi selama Moms mau dan mampu memberikan ASI.
(Sumber Nyata)
No comments:
Post a Comment