24.2.15

Jika Anak Susah Belajar

 

 Banyak orangtua yang mengkhawatirkan masa depan prestasi anaknya yang masih duduk di sekolah dasar.

Banyak orangtua yang mengkhawatirkan masa depan prestasi anaknya yang masih duduk di sekolah dasar. Si anak cenderung menaruh kecintaannya ke pelajaran tertentu. Misalnya si anak hanya suka ke pelajaran praktek sains, melukis, main musik, dan seterusnya. Lebih mengkhawatirkan lagi kalau pelajaran yang tidak disukai itu termasuk pelajaran penting yang nantinya akan dijadikan barometer prestasi akademik di ujian nasional, seperti mate-matika atau bahasa.

Bagaimana menyikapi hal ini? Apa yang bisa dilakukan orangtua agar anak tetap bisa meraih prestasi akademik dengan baik? Pertama, kita perlu bersyukur punya anak yang seperti itu. Sikap positif inilah yang akan memudahkan kita mendekati anak, nantinya. Kenapa perlu bersyukur? Alasannya jelas. Anak yang telah menunjukkan kecintaannya pada pelajaran tertentu, kemungkinan besar dia menyimpan potensi kelebihan di bidang itu.

Dengan bersyukur berarti orangtua akan mudah mengeluarkan insight positif untuk mengembangkan bakat si anak. Para pakar psikologi menemukan banyak bukti bahwa sikap inilah yang melumpuhkan kemandirian dan kreativitas anak (Human Development, 1989)
”Lho, nanti bagaimana nilai ujian nasional dia? Kan bahaya kalau nilai ujiannya jeblok?” Benar, memang. Ini akan terjadi kalau itu kita biarkan. Supaya tidak terjadi, maka kita perlu menginisiatifkan langkah kedua. Apa itu? Pada tahap ini, kita perlu memotivasi anak untuk mulai belajar mencintai pelajaran lain.

Misalnya saja kita memberikan pengertian bahwa beberapa pelajaran yang ia benci itu juga penting untuk mendukung bakatnya nanti. Orangtua bisa memberikan insentif tambahan yang langsung masuk ke pikirannya, katakanlah dibelikan sesuatu yang ia inginkan. Atau bisa memberikan pengertian bahwa kalau nanti nilai ujiannya jeblok di pelajaran tersebut, efek apa yang bisa terjadi.
Tentu saja, karena setiap anak itu membawa keunikan sendiri, maka bisa saja cara yang dibutuhkan orangtua untuk menyampaikan pengertian itu berbeda-beda. Berdasarkan kasus yang umum, orangtua bisa melakukan langkah di bawah ini untuk bisa memotivasi anak mencintai pelajaran penting yang ia benci:
  1. Berkonsultasi meminta bantuan kepada gurunya atau wali kelasnya. Ingat, di mata anak, ucapan guru itu terkadang lebih berwibawa ketimbang orangtuanya
  2. Memfasilitasi berbagai rangsangan yang menyenangkan, misalnya membelikan kamus, CD, langganan majalah, atau memasukkan ke les tambahan
  3. Sering-sering membuka dialog dengan anak tentang masalah ini agar kita mengetahui perkembangannya dan yang terpenting adalah mengetahui inisiatifnya. Ini akan menghindarkan kita dari pen-dekte-an, pemaksaan, atau penunggangan
  4. Melakukan pendampingan dalam mengerjakan pelajaran yang semula ia benci itu sampai terbukti bahwa dia ternyata bisa, ternyata OK juga, ternyata enak juga, dan seterusnya. Semakin besar ”pede” dia, semakin besar kecintaannya
Semoga bermanfaat.
(Sumber Nestle)

5 comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...